MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF DAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1. Model Pembelajaran Kolaboratif

Kolaborasi adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing.  Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan kolaboratif adalah proses kerjabersama yang mengikat dalam berbagai kegiatan, sehingga semua kegiatan terarah pada pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran secara umum adalah proses interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (Ahmar, 2012: 10), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Sehingga dari pendapat tersebut, pembelajaran sangat dipengaruhi lingkungan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Terkait dengan pembelajaran kolaboratif, Panitz (Suryani: 2010: 5) menyatakan bahwa pembelajaran kolaboratif adalah suatu filsafat personal, bukan sekadar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kolaborasi adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Selanjutnya, menurut Sato (2007), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelompok bertujuan untuk mendorong siswa menemukan beragam pendapat atau pemikiran yang dikeluarkan oleh tiap siswa dalam kelompok, bukan untuk menyatukan pendapat. Berdasarkan dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran dengan diskusi kelompok sehingga antar anggota kelompok saling belajar dan bekerja sama dengan tujuan untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu keberhasilan dalam pembelajaran kolaboratif kontekstual, yaitu merupakan keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
Barkley, Cross dan Major (2012: 45-140) menyatakan bahwa pada pembelajaran kolaboratif terdapat lima langkah, yaitu. 
1) mengorientasikan siswa, 
2) membentuk kelompok belajar, 
3) menyusun tugas pembelajaran, 
4) memfasilitasi kolaborasi siswa, 
5) memberi nilai dan mengevaluasi pembelajaran kolaboratif yang telah dilaksanakan. Sedangkan menurut Hosnan (Saifulloh, 2015:5).
langkah-langkah Pembelajaran Kolaboratif yaitu sebagai berikut.
1)  Siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri
2) Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3) Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemonstrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4) Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30  menit.
5) Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan revisi ( bila diperlukan) terhadap penjelasan kelompok lain.
6) Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas dihalaman terakhir yang dikerjakan secara individu (boleh berkerja sama dengan kelompok kolaboratif) kemudian dikumpulkan dan disusun perkelompok kolaboratif.
7) Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

2. Model Pembelajaran Kontekstual

Pada dasarnya, model pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.  Hal ini sesuai dengan pengertian pendekatan kontekstual menurut Depdiknas (2002),model kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Kunandar (Mardianti, 2011: 20), menyatakan bahwa pada pembelajaran kontekstual ada tiga hal yang harus dipahami, bahwa kontekstual menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, mendorong siswa untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, dan juga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa siswa akan mengikuti pembelajaran dengan baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar mengetahuinya.

3. Model Pembelajaran Kolaboratif Kontekstual

Model pembelajaran kolaboratif kontekstual perlu diaplikasikan di sekolah karena caracara pembelajaran kolaboratif kontekstual ini lebih menggerakkan atau mendorong para siswa untuk aktif dan interaktif serta bekerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik di kelas yakni pendekatan yang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari membuat siswa dalam proses pembelajaran lebih menyenangkan. Hal ini sesuai dengan karakteristik pembelajaran kolaboratif menurut pendapat Slavin (1995: 12), yaitu: 1) tujuan kelompok, 2) tanggungjawab individual, 3) kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan, 4) kompetisi antar kelompok, 5) pengkhususan tugas, 6) beradaptasi terhadap kebutuhan kebutuhan individu. Sedangkan menurut Nurhadi (2003: 4), pendekatan kontekstual membuat siswa mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata, sehingga mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif kontekstual dapat membuat siswa meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis secara optimal yaitu dengan membiasakan siswa berkerjasama menyelesaikan permasalahan matematis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa keunggulan yang dapat diperoleh melalui pembelajaran kolaborasi dengan pembelajaran kontekstual. Keunggulan-keunggulan pada pembelajaran kolaborasi tersebut menurut Hill (Suryani, 2010: 14) adalah: 1)  prestasi belajar lebih tinggi, 2) pemahaman lebih mendalam, 3) belajar lebih asik dan menyenangkan, 4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan, 5) mening-
katkan sikap positif, 6) meningkatkan harga diri, 7) belajar secara inklusif, 8) merasa saling memiliki, dan 9) mengembangkan keterampilan masa depan. Sedangkan menurut Sanjaya (2006: 240), dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual siswa harus membangun sendiri pengetahuan melalui aktivitas langsung atau pengalaman sehingga pembelajaran akan lebih bermakna dan tidak mudah dilupakan oleh siswa.
Dari pernyataan diatas disimpulkan bahwa 
1. Pembelajaran kolaboratif dengan langkah-langkah pembelajarannya secara umum yaitu, siswa dikelompokan kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa dimana siswa boleh menentukan sendiri kelompoknya berdasarkan kedekatan sosial tetapi guru harus mengusahakan agar didalam satu kelompok tidak semua siswa kemampuan matematisnya rendah. siswa berkumpul dikelompoknya setelah itu, guru memberi permasalahan perkelompok untuk menunjang siswa mempelajari materi saat ini dan siswa mulai berdiskusi sesuai panduan.  Apabila siswa tidak paham, maka guru hanya sekedar membimbing siswa.  Setelah selesai diskusi, guru meminta perwakilan kelompok untuk memaparkan hasil diskusi dan saling mencocokan dengan kelompok lain. Kemudian setelah selesai, guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini. Pembelajaran kolaboratif menyajikan proses pembelajaran yang membuat siswa harus menggali kemampuan yang dimilikinya sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis secara optimal.
2. Model pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dengan mengaitkan materi pembelajaran kedalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah memahami dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran.
3. Model pembelajaran kolaboratif kontekstual merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan cara bekerja sama antar siswa untuk bertukar pendapat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa.
Dalam bacaan diatas ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan
1. Pada kesimpulan yang saya buat yaitu pembelajaran kolaboratif menyajikan proses pembelajaran yang membuat siswa harus menggali kemampuan yang dimilikinya sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis secara optimal, menurut pendapat anda apakah setuju dengan pernyataan saya, apa ada pendapat lain?
2. Model pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dengan mengaitkan materi pembelajaran kedalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah memahami dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Menurut pendapat anda apakah model pembelajaran Kontekstual harus selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari ?
3. Di setiap peristiwa apabila digabungkan pasti akan mendapatkan hasil terbaik yang dimana penggabungan dua model yaitu model kolaboratif kontekstual akan menghasilkan hasil yang memuaskan, salah satu contohnya  siswa bertukar pendapat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa. Bagaimanakah menurut pendapat anda ?

Komentar

  1. Saya setuju dengan penjelasan anda mengenai pembelajaran kolaboratif.

    BalasHapus
  2. Bagaimana jika kolaborasi model dengan media dalam penerapanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, menurut pendapat saya model dan media itu menarik di kolaborasikan karena pengertian model itu sendiri adalah rencana, representasi, atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek, sistem, atau konsep, yang seringkali berupa penyederhanaan atau idealisasi sedangkan media adalah alat bantu proses belajar mengajar.
      Dicontohkan pada proses pembelajaran guru mengajar dengan model pembelajaran kolaboratif dan di padukan dengan media gambar, dimana siswa di bagi kelompok untuk menjelaskan bagian daari gambar dan dibahas secara kelompok.

      Hapus
  3. Assalamualaikum wr,wb
    Setelah saya baca artikel dari saudari putri. Saya rasa lebih lengkap lagi jika di dalam artikel saudari diatas di masuk kan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajarannya..
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaikumsalam, Terima kasih atas masukannya, dan akan diperbaiki untuk kedepannya

      Hapus
  4. baiklah saya akan mencoba menjawab pertayaan no 2 kalau menurut saya perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari karna dengan mengaitkan suatu ,materi dengan kehidupan sehari-hari akan membuat siswa itu lebih paham dan bisa mengaplikasikannya pembelajaran dalam kehidupan nyata

    BalasHapus
  5. Salam edukasi..
    Saya akan mencoba berdiskusi dgn anda mengenai jwban no 1. Menurut pndapat saya. Menggali informasi pada siswa itu sgt d btuhkan. Krna disna kita bisa mngetahui sbtas mana pmahan seorang siswa. Jika pemhaman mrka kurang maka seorang guru tahu ap yg hrus d lakukan sblm mlnjtkan ke pljran slnjtnya..

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum
    saya akan menjawab pertanyaan no 2, menurut saya tentu kita harus selalu mengaitkan pembelajaran kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Karena kontekstual enekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

    BalasHapus
  7. saya setuju dengan penjelasan saudara tentang model pembelajaran kolaborative karena inti dari kata collaborative adalah kebersamaan atau kelompok yang di terapkan dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus

Posting Komentar